
Teheran, Iran – Polusi udara di ibu kota Iran mencapai tingkat berbahaya dalam beberapa hari terakhir. Pihak berwenang mengumumkan penutupan sekolah dan beberapa kantor pemerintah untuk melindungi warga dari dampak buruk kabut asap.
Menurut laporan dari Departemen Lingkungan Iran, kualitas udara di Teheran telah melewati ambang batas aman. Konsentrasi partikel berbahaya seperti PM2.5 meningkat tajam akibat kombinasi emisi kendaraan, industri, dan kondisi cuaca yang tidak mendukung.
Seorang pejabat kesehatan, Dr. Mohammad Reza, mengatakan bahwa tingginya tingkat polusi ini dapat menyebabkan gangguan pernapasan, terutama bagi anak-anak dan lansia. “Kami menyarankan warga untuk tetap berada di dalam rumah dan menggunakan masker saat berada di luar,” ujarnya.
Pemerintah Iran telah menerapkan beberapa langkah darurat, termasuk pembatasan kendaraan bermotor dan peningkatan pengawasan terhadap industri penyebab polusi. Namun, penduduk Teheran masih menghadapi tantangan besar dalam mengatasi masalah ini.
Udara Teheran Semakin Beracun, Warga Dihimbau Mengurangi Aktivitas Luar Ruangan
Teheran, Iran – Warga di ibu kota Iran menghadapi ancaman serius akibat tingginya tingkat polusi udara yang mencapai kategori “sangat tidak sehat.” Otoritas setempat telah memperingatkan masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan demi mencegah risiko kesehatan yang lebih besar.
Data dari stasiun pemantau kualitas udara menunjukkan peningkatan tajam dalam kadar PM2.5 dan nitrogen dioksida. Kabut asap tebal menyelimuti sebagian besar kota, mengurangi jarak pandang dan meningkatkan kasus gangguan pernapasan di rumah sakit.
“Saya mengalami sesak napas sejak dua hari lalu,” kata seorang warga bernama Ali, yang terpaksa membatalkan aktivitasnya di luar rumah. Ia berharap pemerintah segera mengambil tindakan nyata untuk mengatasi masalah ini.
Teheran Dilanda Krisis Polusi Udara, Pakar Desak Solusi Jangka Panjang
Teheran, Iran – Polusi udara yang memburuk di Teheran mendorong para ahli untuk mendesak pemerintah agar mencari solusi jangka panjang.
Dalam beberapa hari terakhir, indeks kualitas udara di Teheran terus menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Penyebab utama adalah emisi kendaraan bermotor yang tinggi serta pembakaran bahan bakar industri yang tidak ramah lingkungan.
Profesor Reza Habibi, seorang ahli lingkungan dari Universitas Teheran, menekankan pentingnya kebijakan transportasi berkelanjutan. “Kita membutuhkan lebih banyak kendaraan listrik dan kebijakan transportasi umum yang lebih efektif,” katanya dalam wawancara dengan media lokal.
Pemerintah Iran kini mempertimbangkan berbagai opsi, termasuk pembatasan kendaraan berbahan bakar fosil serta insentif untuk penggunaan energi hijau. Namun, banyak warga berharap tindakan nyata segera diambil sebelum kondisi udara semakin memburuk.